Mendeskripsikan permasalahan teroris di Indonesia dengan perspektif teoritis sosiologis
Mendeskripsikan permasalahan teroris di Indonesia dengan melakukan tiga pendekatan perspektif teoritis sosiologis
Fakta tidak pernah menafsirkan dirinya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menafsirkan apa yang kita amati dengan menggunakan ‘’akal sehat’’. Kita menempatkan pengamatan kita dalam suatu kerangka dalam suatu kerangka ide-ide yang sedikit saling berhubungan. Para sosiolog pun melakukan ini, namun mereka menempatkan pengamatan mereka dalam suatu kerangka konsep yang dinamakan teori, suatu teori ialah suatu pernyataan umum mengenai bagaimana beberapa bagian dunia saling berhubungan dan bekerja. Teori ialah suatu penjelasan mengenai dua’’fakta’’ atau lebih berhubungan satu dengan yang lain.
Interaksionisme Simbolis
Kita dapat menelusuri asal-usul interaksionisme simbolis (symbolic interactionism) ke para ahli filsafat moral Scotlandia abad ke-18, yang mencatat bahwa individu mengevaluasi prilaku mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain (Stryker 1990). Perspektif ini dibawa ke sosiologi oleh Charles Horton Cooley (1864-1929) dan George Herbert Mead (1863-1931).
Simbol dalam kehidupan sehari-hari para penganut interaksionisme simbolis mengkaji bagaimana manusia menggunakan simbol untuk mengembangkan pendangan mereka mengenai dunia untuk saling berkomunikasi. Tanpa simbol, kehidupan sosial kita tidak akan lebih canggih dari pada kehidupan sosial hewan. Tanpa simbol kita tidak akan mempunyai paman atau bibi., majikan atau guru, karena simbollah yang mendefinisikan bagi kita apa yang dimaksud dengan hubungan.
Misalnya : jika kita menganggap Noordin M.Top adalah penjahat yang masih ada hubungan saudara, maka kita akan berprilaku dengan cara tertentu, namun jika Noordin M.Top itu adalah seorang teroris yang tidak ada hubungan darah maka kita akan berprilaku dengan cara yang berbeda. Simbollah yang mengatakan pada kita bagaimana kita berhubungan dengan orang lain dan bagaimana kita harus memperlakukan mereka. Dalam teroris, simbol sangat dibutuhkan untuk mengetahui keadaan dan situasi daerah yang akan dijadikan sasaran bom. Karena dengan simbol-simbol para teroris dapat dengan mudah, karena mereka sudah mengetahui gerak-gerik keadaan ditempat yang dijadikan sasaran bom. Dengan simbolis mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dengan sesama teroris tanpa diketahui orang-orang. Karena tanpa simbol tidak akan dapat mengkordinasikan tindakan. Dengan simbol para teroris dapat melakukan rencana untuk suatu tanggal, waktu dan tempat untuk sasaran bom.
Singkatnya para penganut interaksionisme simbolis menganalisis bagaimana prilaku seseorang tergantung bagaimana seseorang mendeskripsikan dirinya dan orang lain. Mereka mengkaji interaksi tatap muka , mereka terlibat bagaimana orang menangani hubungan diantara mereka dan bagaimana mereka memberi makna pada hidup mereka dan tempat mereka didalamnya. Para penganut interaksionisme simbolis manunjukan bahkan bahwa diri (self) pun merupakan suatu simbol, karena diri terdiri atas ide-ide mengenai siapakah kita. Teroris atau pelaku bom sendiri dapat menggambarkan dirinya sebagai orang yang berjuang dijalan Allah, mereka merupakan golongan radikal yang harus di basmi sampai keakar-akarnya. Mereka menggambarkan tentang orang-orang indonesia yang telah banyak melakukan dosa besar dan orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan orang kafir wajib dibunuh. Misalnya, di indonesia banyak sekali kasus-kasus hukum yang tidak diselesaikan dengan hukum Allah, padahal di Indonesia sendiri sebagian besar beragama islam, mengapa kita (muslim) tidak sepenuhnya menggunakan hukum Allah?. Nah ,menurut pandangan mereka (teroris) orang-orang yang tidak menggunakan hukum selain Allah adalah kafir.
Sedangkan kita menggambarkan diri seorang teroris adalah seseorang yang sangat radikal dalam islam, mereka adalah orang-orang yang telah terpengaruh doktrin-doktrin kesesatan, yang membuat pola pikir mereka seolah-olah hanya mereka yang benar, padahal kebenaran hanya datang dari Allah.
Analisis Fungsional
Ide pokok analisis fungsional (functional analysis) ialah bahwa masyarakat merupakan suatu kesatuan utuh; masyarakat terdiri atas bagian-bagian yang berhubungan saling bekerja sama. Analisis fungsional , yang juga dikenal sebagai fungsionalisme (functionalism) dan fungsionalisme structural (structural functionalism), berakal pada asal-usul sosiologi. Auguts Comte Herbert Spencer memandang masyarakat sebagai sejenis organisme hidup. Mereka menulis ‘’Sebagaimana seseorang atau seekor hewan memiliki organ yang berfungsi bersama, masyarakat (khususnya teroris) jika suatu teroris ingin berfungsi secara lancar, maka tiap-tiap struktur posisi atau jabatan yang di milikinya harus saling bekerja sama agar aksinya berhasil.
Dalam teori ini dijelaskan bahwa setiap masyarakat merupakan suatu kesatuan, sama halnya dengan teroris, ia memiliki jaringan-jaringan yang tersebar luas di daerah-daerah khususnya di Indonesia. Setiap jaringan saling berfungsi satu sama lain agar dapat menjalankan aksinya dengan lancar.
Rentetan pengeboman menunjukkan, modus aksi terorisme mengalami pergeseran dan peningkatan sehingga kian sulit terdeteksi intelijen dan aparat keamanan lainnya. Jika pada beberapa kasus bom bunuh diri pelaku memakai mobil atau datang dari luar lokasi pengeboman dengan menggendong bomnya, kini dalam kasus terakhir di Marriott dan Ritz Carlton dilakukan dari dalam hotel itu sendiri. Jika sebelumnya bom yang sudah siap meledak dirakit di luar, kini justru dibuat di dalam hotel itu sendiri. Ini sebuah modus baru yang belum terantisipasi sekuritas hotel ataupun aparat kepolisian dan bukan tidak mungkin muncul pula modus-modus baru usai Marriot dan Ritz Carlton.
Dari kasus bom bunuh diri di hotel Ritz Carlton dan J.W Marriot sangat jelas bahwa aksi mereka tidak dilakukan sendiri. Meraka melakukan aksinya dengan bantuan orang dalam. Salah satunya adalah Muhammad Ibrahim seorang perangkai bunga di Hotel J.W Marriot. Dia membantu seorang yang yang akan menjadi pengantin (istilah terorisme), yaitu orang yang membawa bom dan kemudian dia meledakan bom tersebut, hingga dia sendiri tewas.
Teori Konflik
Teori konflik memberikan perspektif ketiga mengenai kehidupan social. Berbeda dengan fungsionalis, yang memandang masyarakat sebagai suatu keseluruhan yang harminis, dengan bagian-bagian yang bekerja sama. Sosiolog mempelajari bagaimana konflik menembus setiap lapis masyarakat, entah itu kelompok kecil, suatu organisasi, suatu komunitas, atau seluruh masyarakat. Jika orang dalam suatu posisi berwenang mencoba menegakkan konformitas, yang harus mereka lakukan, terciptalah kemarahan dan perlawanan. Hal ini terjadi di Indonesia, konflik antara teroris dan masyarakat berkembang ketika terjadi bom bali pertama dan pengeboman yang terjadi selanjutnya. Peristiwa ini sangat membuat geram para keluarga korban, kaum muslimin dan masyarakat. Karena peristiwa tersebut telah mencoreng nama islam dan bangsa Indonesia.
Para teroris membawa masalah agama dalam aksinya, apalagi setelah terjadinya serangkaian bom, nama islam sangat rendah dimata dunia. Karena dianggap sebagai agama teroris yang selalu menyebarkan rasa tidak aman.
Terorisme sebagai sebuah paham memang berbeda dengan kebanyakan paham yang tumbuh dan berkembang di dunia, baik dulu maupun yang mutakhir. Terorisme selalu identik dengan teror, kekerasan, ekstrimitas dan intimidasi. Para pelakunya biasa disebut sebagai teroris. Karena itu, terorisme sebagai paham yang identik dengan teror seringkali menimbulkan konkuensi negatif bagi kemanusiaan. Terorisme kerap menjatuhkan korban kemanusiaan dalam jumlah yang tak terhitung.
by : ridwan april amsah
daftar pustaka : sosiologi membumi karya james henslin

Currently have 0 komentar: